Prolog: SCREAM

Credit: SCREAM

This fanfiction is dedicated to Putri.

I hope you like this.

Summary : Pembunuh dengan topeng Ghostface berkeliaran.  Dan para remaja di Naran Senior High School menjadi panik dan mencurigai satu sama lain.  Bagaimana cara Ririn yang menghadapi pembunuh yang berkeliaran dan membantai satu persatu teman-teman sekolahnya?

Main Cast :

-Park Ririn as Putri

-Choi Siwon

Prolog Cast :

-Hankyung

-Han Seoyoung as Me

Credit : Scream and others

Warning!

NC-17 for Killer scene and bloody.

Krriiiiiing!

Suara deringan telepon membuat Hankyung bergeser dari tempat duduknya untuk meraih pesawat telepon yang berdering tak jauh dari tempatnya duduk.  Hankyung mengangkatnya untuk menghentikan deringan yang mengganggu acaranya untuk menonton TV malam ini.

“Yoboseo~” jawab Hankyung.

Hening.

Tak ada jawaban.

Hankyung berdecak kesal.  Ia menaruh kembali pesawat telepon pada tempatnya dan menatap layar TV.  Dan keasyikannya menonton TV harus kembali terganggu dengan deringan itu.

“Yoboseo~”

“Hankyung, kau sendirian di rumah?”

Hankyung mengernyit mendengar nada akrab yang tak dikenalnya itu.  Suara itu agak lebih berat dan misterius.

“Ya, tentu saja.  Siapa kau?”

“Kau lupa pada teman lama?”

Hankyung makin mengernyitkan dahi heran.  “Hm, siapa kau?  Apakah kau Zhou Mi?  Hei, jangan mengerjaiku ya!”

“Zhou Mi?  Hahahaha… tentu saja bukan.  Jika kau ingin tahu, tanyakan saja pada Seoyoung adikmu.  Iya kan?”

“Hei, adikku sedang keluar.  Kau jangan aneh-aneh ya!”

“Hmmm, tentu saja!  Dan kau jangan marah jika Han Seoyoung sedang ada bersamaku.”

“Apa?”  Hankyung mengernyit heran.  Bukankah Seoyoung bilang ia akan ke rumah Ririn bersama Sangmi?  Dan ia pun heran ketika seorang pria meneleponnya dan bilang bahwa ia sedang bersama adiknya.  Dan rasanya ia ingin tertawa jika Seoyoung dekat dengan seorang pria.  Setahunya adik perempuannya itu tidak terlalu suka dekat-dekat dengan pria mana pun.  Hankyung pun mulai merasa was-was ketika melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan tanda-tanda kedatangan orang tuanya dan Sooyoug pun belum ada.

“Hei, masih tidak percaya?  Coba lihat keluar jendela!”

Hankyung dengan malas-malasan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela besar yang mengarah keluar dan melihat seseorang dengan topeng Ghostface.   Orang itu berlutut sambil memegangi kapak.

Hankyung berlari menuju teras untuk memastikan apa yang dilihatnya.  Dan ketika ia memeriksa kembali tempat itu, tak ada siapa pun di sana.

“Hei, siapa kau?  Tunjukkan padaku dirimu!” tantang Hankyung yang mulai kesal karena merasa dirinya dipermainkan oleh pria yang mengganggu waktunya sendirian berada di rumah.

“Hahahahahaha… kau ini galak sekali sih.  Baiklah!  Ayo ke halaman belakang.  Adikmu sudah menantimu di sana!” ucapnya dengan nada mengejek.

Hankyung pun tanpa membuang waktu lagi berlari menuju halaman belakang.  Sebelum ia membuka pintu kaca menuju teras halaman belakang, ia melihat sendiri adiknya, Seoyoung terikat di sebuah kursi dengan mulut tertutupi solasi hitam untuk membungkam teriakannya.

“Seoyoung!” teriak Hankyung.  Ia dengan cepat berusaha membuka pintu menuju teras.  Tapi, entah sejak kapan pintu itu terkunci.  Seoyoung yang berada di kursi menangis sambil menatap kakaknya yang berusaha menolongnya.  Dan Hankyung melihat orang yang mengenakan jubah hitam dan topeng Ghostface itu berdiri di belakang Seoyoung.

Hankyung dengan cepat berbicara pada pesawat telepon yang menghubungkannya dengan pria itu.  “Cepat kau lepaskan adikku!” perintah Hankyung tegas.

“Hei, bersabarlah!” pria itu menunjukkan pisau ditangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam ponsel.  Hankyung menelan ludah.  “Sekali kau hancurkan kaca terasmu, maka nyawa adikmu akan melayang.”

“Kau jangan main-main!” ucap Hankyung gemetaran.

“Aku tidak main-main!” balasnya.  “Adikmu manis juga, biarpun dia lesbian.”

“Jaga ucapanmu!” Hankyung membentaknya.  Pria itu mendekatkan pisaunya ke pipi gadis itu dan menggoresnya.  “HENTIKAN!” Hankyung sudah nyaris kehilangan suaranya ketika melihat darah segar mengucur melewati leher Seoyoung..

“Baiklah, ayo kita bermain dahulu.  Kau suka nonton film horror Hankyung?” tanyanya.  Hankyung menelan ludah tak percaya.  Tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya menjadi kaku.  “Kau tahu?  Keanu Reaves dan Rachel Weish beradu akting di film apa?”

“Lepaskan adikku!” geram Hankyung.

“Jawaban yang salah!” pria itu menusuk sisi perut Seoyoung hingga gadis itu memekik tertahan.

CONSTANTINE! Mereka adu akting di film Constantine!” Hankyung berteriak panik.

“Bagus.  Tapi sayang terlambat.”  Ia mencabut pisau itu dari perut Seoyoung hingga darahnya merembes keluar dari luka tempat tusukkan.

“Nah, pertanyaan kedua.  Nah, kau tahu film Friday the 13th?  Siapa nama anak yang tenggelam di Camp Crystal Lake?” tanyanya.

Hankyung mengutuki dirinya sendiri yang tidak tahu tentang film horror era 80-an itu.  Dan sebuah film yang di bawa Seoyoung beberapa hari lalu langsung membuatnya menjawab tanpa berpikir panjang, “Freddy Krueger!”

“Hahahahaha… kurasa kau ingat film Freddy versus Jason hingga menjawab seyakin itu.  Dan jawabanmu, salah!” ia menghujamkan pisau itu pada ulu hati Seoyoung dan membuat gadis itu terkulai tak berdaya.  Lalu kembali menusukkan pisau tajam itu ke kaki dan terakhir di jantung beberapa kali.

“Seoyoung!” teriak Hankyung.  Hankyung yang kalap mengambil kursi kayu yang sepasang dengan meja makan dan menghantamkannya ke pintu kacar menuju teras.  Pria itu berlari meninggalkan Hankyung yang kini benar-benar gemetaran hebat melihat jasad adiknya yang sangat mengenaskan itu.

“Seoyoung!” Hankyung menatap mata Seoyoung yang kosong.

“Hankyung, pertunjukkan sudah berakhir!” suara pria itu membuat Hankyung menoleh.  Dan di saat bersamaan sebuah kapak menghantam kepalanya.  Setelah kepala Hankyung hancur dan penuh dengan darah hingga tak ada nafas kehidupan di tubuh itu, pria itu pun pergi.

Dan satu jam kemudian terdengar pekikan seorang pria dan jeritan histeris wanita yang berasal dari wanita bermarga Han, yang tak lain adalah ibu dari kedua anak yang terbunuh itu.

###

12 thoughts on “Prolog: SCREAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s