STALKER (Chapter 1)

Fanfict ini adalah remake dari fanfiction dengan judul sama yang dipublikasikan di blog keroyokan yang terdahulu.  Karena bahasa penulisan saya yang dulu kacau sekali, akhirnya di-remake ulang.  Di sini nanti akan ada banyak  tokoh-tokoh yang berganti nama, dan satu character fiktif yang diganti juga.  Semoga siapa pun yang mampir dan membaca ini sedikit terhibur.

Aya

***

Malam dingin mencekam dengan hujan yang sangat deras menerpa kulit  Sang Mi yang berlari dengan cepat sambil sesekali menengok ke belakang.  Dengan tubuh basah kuyub karena di guyur hujan, ia terus saja berlari dari pria itu.  Pria itu masih berlari mengejarnya sambil mengacungkan pisau perak tinggi-tinggi untuk menikamnya.  Sang Mi makin ketakutan. Ia mempercepat larinya untuk menyelamatkan diri.

“TOLOOOOOONG!  SESEORANG, TOLONG AKUUUUUUUU!” teriakannya yang cukup keras di rasa sia-sia di tengah hujan deras dan petir yang menggelegar setiap dua menit sekali.

Ia terus saja berlari, berharap pria itu akan lelah mengejarnya dan menyerah.  Ketika dirasakannya pria itu tidak mengikutinya lagi, ia berhenti.  Berhenti di atas jembatan Sungai Han.  Air sungai yang terlihat hitam legam di malam yang dingin ini terlihat mengalir deras.  Sang Mi mencoba menstabilkan nafasnya.  Dirasakannya perut di sebelah kirinya sakit karena habis berlari.

“Akhirnya, kutemukan juga kau.”  Suara berat seorang pria membuat tubuh Sang Mi membeku. Ia berbalik, menatap Pria yang daritadi mengejarnya tanpa ampun.  “Ayo bermain denganku, manis!”  katanya dengan suara lembut namun berbahaya.  Sang Mi menggeleng ketakutan.  Air mata dan air hujan kini bersatu di wajahnya yang sudah memucat.

“Kumohon, jangan!”  pinta Sang Mi.  Tak ada cara lain selain memohon untuk meluluhkan orang yang ingin membunuhnya itu. Pria itu mendekatinya dan mendekatkan pisau perak itu ke wajah pucat Sang Mi dan mencekiknya secara perlahan-lahan.  Sang Mi berdo’a agar waktu berhenti berputar, namun apa daya?  Tuhan hanya menyaksikannya saja dan memutuskan takdir seseorang.

Orang itu menggores leher Sang Mi dengan pisaunya dan menjilat darah yang ada di pisau, Sang Mi sama sekali tidak dapat melihat wajah pria itu karena keadaan yang tidak mendukung.  Sang Mi menarik nafas dan memutuskan takdirnya sendiri.  Ia menendang perut pria itu dengan kesadaran yang luar biasa pulih.  Ia lalu melompat ke Sungai Han untuk memutuskan takdirnya sendiri. Ya, takdirnya untuk mati.

STALKER

Sebuah sinar putih telah membangunkan Sang Mi dari tidur panjangnya.  Ia berharap Tuhan mau mengerti keadaannya saat itu.  Ia bertanya-tanya dalam hati apakah ia masih diampuni atas tindakannya?  Ia merasakan sakit dikepalanya yang membuat ia bertanya-tanya.  Apakah setelah mati, kita masih merasakan sakit?  Dan ia pun kini merasakan sakit di seluruh tubuhnya.

“Sang Mi, kau sudah sadar?  Syukurlah.”  Suara seorang gadis yang lembut menyambut kesadaran Sang Mi.  Sang Mi menatapnya dengan bingung. Soo Ran?  Dokter Seoul Hospital sekaligus temannya itu menatapnya dengan haru.  ‘Apakah Soo Ran pun sudah meninggal?’ Itulah pikirannya saat ini.

“Soo Ran?  Kenapa kau ada di sini?” tanyanya.  Soo Ran tercengang.

“Lh0?  Aku kan dokter di sini.  Sudah sepantasnya aku bertugas di sini.” Jawabnya.

“Lalu, aku di mana?” tanyanya lagi.

“Kau sedang di rumah sakit Sang Mi.”

“Tapi, kenapa aku bisa berada di sini?  Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Jadi kau sama sekali tidak ingat?”  tanya Soo Ran.  Sang Mi menggeleng pelan.  Soo Ran menghela nafas. “Kau di temukan terapung di sunghai Han oleh warga.  Sebetulnya ada apa?”

Sang Mi mencoba mengingat-ngingat kejadian yang membuat dirinya berada di tempat ini.  Ia teringat pria itu.  Ya, pria yang telah melukai dan mencekiknya.  Tanpa sadar Sang Mi meraba lehernya yang memar dan tergores pisau perak itu.

“Di lehermu ada luka goresan dan memar, siapa yang melakukan itu padamu?” tanya Soo Ran cemas.  Sang Mi masih terdiam sambil menatap kosong ke depan.

“Boo?” seorang dokter lagi membuka pintu dan menghampiri Soo Ran.  “Annyeonghasseo, Sang Mi-ssi.” Sapanya.

Sang Mi hanya tersenyum.  Ia tidak sanggup untuk membalas salam pria itu.  “Kyu Hyun, ada apa?”

“Sekarang sudah siang.” Jawab Kyu Hyun sambil menunjukkan jam tangannya.  Soo Ran mengangguk mengerti.

“Sang Mi, kau beristirahatlah.  Jika ada sesuatu jangan segan-segan untuk memanggilku.” Katanya.  “Dan oh ya, aku lupa.  Petugas dari kepolisian ingin berbicara denganmu.  Kau beristirahatlah dulu.”

“Terima kasih.”  Jawabnya.  Dan kedua dokter itu pun pergi meninggalkan Sang Mi yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

STALKER

Seorang pria berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan pengasingan yang sangat khusus di rumah sakit itu.  Ia balas mengangguk pada beberapa perawat yang sudah dikenalnya selama lima tahun ini.  Ia seperti biasa menuju sebuah ruangan yang sudah tidak asing lagi untuknya.

Ia membuka pintu dan melihat  seorang dokter  yang  duduk di sebuah kursi sambil menatap seorang gadis yang sedang asyik menggambar dengan crayon merah, rambutnya yang panjang menutupi wajah pucatnya.  Dokter itu mengalihkan pandangannya pada pria itu, lalu tersenyum. “Ah, Detektif Park, apa kabarmu?”  katanya sambil bercanda.

“YA!  Kau ini…. Menyindirku saja.”  Dokter itu tertawa keras, sedangkan gadis yang sedang asyik menggambar itu sama sekali tidak terganggu dengan tawa kerasnya.  Dokter itu mengalihkan pandangannya pada gadis itu, begitu pun pria yang baru datang itu.  “Bagaimana?” tanya pria itu mengedikkan kepala pada gadis itu.

“Dia baik-baik saja, setahun ini dia sudah tidak mengamuk lagi.  Kau tenang saja Jung Soo-ah.” Katanya sambil tersenyum.  Pria bernama Jung Soo itu mengangguk, lalu menatap gadis itu.  “Aya, sudah selesai? Coba kulihat gambarmu.” Katanya lembut mencoba menarik kertas yang digambari gadis itu.  Namun gadis  yang bernama Aya itu masih menggores crayon merahnya dengan asal.

“Aya, berikan kertas itu pada Dokter Han Kyung!” perintah Jung Soo.  Namun Aya  makin mempertegas goresan crayon pada gambarnya.  Han Kyung menyuruh Jung Soo untuk diam.

“Aya, ayo kami ingin melihat gambarmu.” Kata Han Kyung lembut.  Aya bangkit dari duduknya memukul meja dengan tangannya dan menyingkirkan semua kertas yang ada di atas meja dengan bersih.  Ia mendorong Jung Soo dengan keras dan berlari ke luar.  Han Kyung dan Jung Soo yang baru sadar dengan apa yang terjadi berlari mengejarnya.

Aya terus berlari untuk menghindari kedua pria itu.  Ia beberapa kali menabrak para perawat yang hilir mudik tanpa merasa bersalah.  Dibelakangnya Han Kyung dan Jung Soo berteriak-teriak.  Ya, berteriak untuk memerintahkan mereka menangkap Aya.  Pasien rumah sakit jiwa yang sebentar lagi akan bebas.  Pikir gadis itu senang.

Aya pun tidak sengaja menabrak perawat yang selalu merawatnya itu.  Sung Young yang baru datang, kaget melihat Aya berlari menabraknya tanpa meminta maaf.  “Aya?  ISHIKAWA AYA?” panggil Sung Young.

“SUNG YOUNG, TANGKAP DIA!” teriak Han Kyung dan Jung Soo kompak.  Sung Young bergegas menyingsingkan lengan bajunya dan berlari mengejar Aya.

“Duh, larinya cepat juga.” Katanya masih menatap punggung Aya yang kini menuju pagar tinggi di taman rumah sakit.  “Baiklah, jika ini maumu.”  Sung Young terus saja berlari, hingga ketika ia melihat Jun Su_perawat rumah sakit  yang kebetulan berada di taman memainkan bola di kakinya.  “JUN SU, BERIKAN BOLA ITU PADAKU!”  teriaknya.  Jun Su pun dengan cepat mengoper bola pada Sung Young, dan bak pemain Sepak Bola  profesional Sung Young menerima bola dan menendang bola itu tepat mengenai punggung Aya hingga gadis itu jatuh terjerembab.  YES!

Sung Young bersorak dalam hati lalu berlari menuju gadis itu.  Ia membalikkan tubuh gadis itu dan menindihnya.  “Ishikawa Aya, sudah berapa kali kau kabur?” tanya Sung Young dengan senyum manis mengejeknya.

“13?” jawab Aya dengan tatapan mata kosong.

“14.” Jawab Sung Young.  “Dalam setahun kau sudah 14 kali percobaan kabur dan 14 kali kutangkap.”  Katanya.  Han Kyung dan Jung Soo menghampiri mereka dengan beberapa perawat lain.  Han Kyung menggeleng tidak percaya, ini sudah ke-14 kalinya Sung Young berhasil menangkap gadis itu.  Sung Young menyingkir dan membiarkan Han Kyung menyuntikkan obat penenang pada Aya.

“Terima kasih Sung Young.” Ucap Han Kyung.  Sung Young hanya tersenyum lalu pergi untuk mengembalikan bola pada Jun Su.

“Ternyata, Junsu selalu membawa bola ada untungnya juga.”  Gumam Han Kyung sambil mendorong kursi roda yang di duduki Aya yang sudah lemah.  Jung Soo mengangguk dan mengikuti mereka, namun ponselnya yang berdering nyaring menghentikan langkahnya.

Yoboseo~”

Oppa,” sapa seorang gadis.

“Ah, Rin Hyo?  Ada apa?”

“Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanyanya.

“Bantuan apa?”

“Tentang kasus itu.  Aku diminta Kepala Polisi Shin untuk menyelidikinya.” katanya menggantung.

“Baiklah.  Aku tidak janji, tapi berikan data-datanya padaku. Oke?”

ArasseoAnnyeong Oppa.”

De annyeong.” Balasnya.  Jung Soo meremas ponselnya, ia lalu menekan tuts ponselnya untuk menelepon seseorang menunggu telepon terhubung.  Di nada ketiga orang itu mengangkap ponselnya.

“Ya, Hyung?”

“Kau, lindungi dia. Oke?”

STALKER

Rin Hyo yang baru saja akan pergi untuk mengintrogasi seseorang tiba-tiba di panggil untuk menghadap Kepala Polisi  Shin.  Ia membuka pintu ruangan itu.  Didapatinya pria tambun itu duduk di balik mejanya sedang berbicara dengan seorang pria berjas hitam.

“Ah, Rin Hyo.  Duduklah.” Perintahnya.  Rin Hyo duduk di sebelah pria itu dan yang ternyata adalah Zhou Mi.  Mata Rin Hyo terbelalak, namun ia kembali fokus ke topik pembicaraan yang di angkat Kepala Polisi Shin yang bernama lengkap Shin Dong Hee, yang biasa di panggil Shin Dong oleh teman akrabnya.

“Baiklah, kalian akan bekerja sama dalam kasus ini.  Jadi kau tidak akan bekerja sendiri Rin Hyo.” Kata Shin Dong tersenyum ramah.

“Apa?”  Rin Hyo mencoba mencerna kata-kata Shin Dong.

“Zhou Mi partner kerjamu sekarang.” Katanya singkat.  Rin Hyo menatap Shin Dong tidak percaya.

“Tapi, bukankah partnerku adalah Lee Hyuk Jae?”

“Maaf, Hyuk Jae saat ini sudah aku pindahkan ke bagian lain, jadi kau bekerja samalah dengan Zhou Mi.”

Arasseo.” Jawab Rin Hyo dengan enggan.  Ia dan Zhou Mi keluar dari ruangan Shin Dong.  Rin Hyo menghela nafas berat.  Ia melirik pria disebelahnya ini dengan agak sebal.  Rin Hyo sering sekali digosipkan pacaran dengan pria ini karena kebiasaan mereka yang tidak sengaja bertengkar kecil untuk sesuatu yang spele.

Rin Hyo memasukkan tangannya ke dalam saku jaket berwarna krem-nya yang panjang hampir selutut itu.  Zhou Mi yang berjalan disebelahnya sama sekali tidak berkata apa-apa..  Ia hanya berjalan dengan jas hitam dan dasi cokelat yang di longgarkan.  Mereka tengah berjalan menuju Rumah Sakit yang tak jauh dari kantor mereka.  ‘Tidak menunjukkan seperti seorang Polisi.’ Begitulah kesan Rin Hyo pertama kali melihatnya.

Zhou Mi baru saja menyelipkan sebatang rokok di mulutnya dan menyalakan pemantiknya.  Tangan Rin Hyo dengan cepat menyambar pemantik dan membuang rokok milik Zhou Mi lalu menginjaknya dengan ganas.

YA!  Itu rokok terakhirku.”  Zhou Mi nyaris berteriak padanya.

“Kau ini, kita ini akan bekerja, tidak seharusnya kau merokok di saat-saat seperti ini.” Balas Rin Hyo.

AISH! Kau ini….  sudahlah!”  ia berjalan mendahului Rin Hyo, padahal ia ingin sekali memaki-maki gadis cantik itu, namun tidak jadi.  Rin Hyo mengikutinya dari belakang dengan cepat mencoba menjejeri langkahnya.  Mereka kembali terdiam.

“Siapa nama Korban?” tanya Zhou Mi tiba-tiba.

“Kwon Yu Ri, meninggal dengan luka cekikan dilehernya dan luka gores di…”

“Bukan yang itu.” sela Zhou Mi.  Rin Hyo menatapnya dengan pandangan bertanya.  “Sekarang, yang sedang akan kita kunjungi.”

“Oh, Seo Sang Mi.  Dia ditemukan terapung di sungai Han.” Jawabnya.

“Apakah ini kasus bunuh diri konyol karena stress di tinggal sang pacar?” tanya Zhou Mi sinis.

“Bukan, menurut keterangan sahabat korban, korban sama sekali tidak memiliki hubungan khusus dengan siapa pun.  Jika menurutmu ada hubungannya dengan stress, aku rasa ada.” Jawabnya lugas. Zhou Mi balas menatapnya bertanya.  “Dia stress karena mendapat teror dari orang yang tak di kenal.” Jawabnya.

Mereka pun terdiam.  Mereka tidak menyadari bahwa beberapa  meter dari mereka, seseorang sedang memfokuskan kameranya pada Rin Hyo dan memotretnya secara diam-diam.  Ia menyeringai menatap hasil jepretan kamera digitalnya dan mulai mengikuti mereka lagi.

To be continue…

2 thoughts on “STALKER (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s